TUGASSENI BUDAY…

TUGAS

SENI BUDAYA

( SENI KRIYA DARI TANAH LIAT )

DISUSUN OLEH

NAMA                                   : HANI MALKAM

KELAS                                  : X UNGGULAN 2

NO ABSEN                           : 11

GURU PEMBIMBING        : HARIS HERMANA, SPd., MA.

 

MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 UNGGULAN

MATARAM

TAHUN PELAJARAN 2010/2011

 


GERABAH BANYUMULEK

 

A.       SEJARAH GERABAH

Barang-barang tembikar yang lebih dikenal dengan “gerabah” menjadi salah satu bentuk buah karya dan sekaligus tradisi nenek moyang turun-temurun yang pernah ada dan sampai sekarang masih dipertahankan sebagai suatu keahlian penduduk setampat yang telah diakui dunia. Duli gerabah digunakn untuk menyimpan beras, garam dan bumbu-bumbuan disamping digunakan untuk tujuan memasak.

Pembuatan gerabah merupakan pekerjaan ibu dan anak perempuan, sebaliknya membawa dan menjual ke pasar adalah tugas ayahdan anak lelaki. Namun, seiring kemajuan zaman yang begitu cepat dimana sebagian besar ayah dan anak lelaki ambil bagian dalam pembuatan gerabah bekerja bersama-sama untuk memperoleh hasil yang maksimal dan kualitas yang bagus.

B.        LATAR BELAKANG DAERAH BANYUMULEK SEBAGAI SALAH SATU TEMPAT MEMPRODUKSI GERABAH

Desa Banyumulek adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat dengan hampir 80 persen dari penduduknya merupakan pengrajin. Berbagai jenis kerajinan gerabah di produksi di desa ini, baik secara tradisional maupun modern hingga kini. Hampir setiap hari desa ini ramai dikunjungi wisatawan lokal maupunmancanegara dengan tujua untuk melihat koleksi kerajinan desa ini. Para wisatawan biasanya membeli kerajinan gerabah Banyumulek sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang. Bahkan banyak yang memesan dalam jumlah besar untuk di ekspor ke luar negeri.

Luas desa ini mencapai kira-kira 4,21 ha dengan jumlah penduduk 10.347 jiwa dan lebih dari 80 persen diantaranya menggantungkan hidup pada kerajinan gerabah.

Pada awalnya, pengrajin gerabah di Lombok dan Banyumulek memproduksi gerabah hanya untuk keperluan rumah tangga atau untk perabot dapur sesuai dengan asal muasalnya sesuai dengan legenda Dewi Anjani. Namun sering dengan pekembangan dan pergeseran zaman, desain, fungsi dan nilai komersial gerabah Bantumulek atau Lombok pun turut bergeser.

Dewasa ini, hampir 80-90 persen hasil kerajinan gerabah berfungsi sebagai dekorasi atau barang seni semata ketimbang barang fungsional. Pkembangan gerabah dari segala sisinya juga turut didukung oleh berkembangnya pariwisata di Lombok. Banyak diantara para wisaawan yang tidak hanya membeli gerabah Banyumulek sebagai souvenir tetapi juga memesannya dalam jumlah banyak untuk dijual kembali ke tempat asal para wisatawan tersebut. Kondisi ini membuat para pengrajin di desa Banyumulek semakin terpacu untuk memperindah bentuk dan warna gerabahnya, meningkatkan kualitas dan memperbanyak pilihan dan ukuran.

Menyadari perkembangan dari gerabah ini semakin pesat dan dapat membantu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah daerah tidak tinggal diam, DISPERINDAG NTB melakukan sejumlah langkah antara lain: memberikan bantuan secara teknis untuk meningkatkan kualitas gerabah, membina kerjasama dengan universitas, lembaga riset dan negara lain seperti New Zealand dan mengikuti pameran hasil kerajinan tangan baik di dalam maupun di luar negeri untuk meningkatkan penjualan.

C.       BAHAN DAN ALAT YANG DIPERGUNAKAN

1.      Bahan Baku

Sejenis tanah liat yang oleh masyarakat disebut Dana Lili dan Sarae Alu (pasir halus). Tanah liat digali di lahan sekitar desa, pasir diambil disungai yang letaknya tidak jauh dari desa pengrajin.Tanah liat dijemur dalam waktu 2 hari, kemudian direndam selama satu malam (+/- 12 jam). Setelah itu dicampur dengan pasir halus. Tanah yang sudah bercampur pasir dipindahkan  dipindahkan diatas hamparan kapa jara (kulit kuda). Selanjutnya diayak, sampai pasir menyatu dengan tanah dalam keadaan lembut.

2. Alat-Alat Yang Dipergunakan

Alat-alat yang dipergunakan sangat bersahaja atau sederhana. Pada umunya alat-alat itu, buatan para pengrajin sendiri, atau benda-benda yang diambil disekitar lingkungannya.Jenis-jenis peralatan yang dipergunakan oleh para pengrajin gerabah, terdiri dari.

1. Katoa (Belanga) dari Gerabah.

Dipergunakan sebagai tempat air untuk membasahi sobekan kain (tembe) atau kadang-kadang tempat membasahi jari-jari yang dipergunakan dalam membentuk wadah.

2. Bebe

Untuk memukul atau menepuk gerabah agar menjadi padat dan kental.

3. Wadu (Batu)

Dipergunakan untuk membuat Periuk, Tempayan, Padasan dan sejenisnya. Fungsinya untuk landasan penutupan dinding gerabah dari dalam.

4. Binggi Mbolo

Berfungsi sebagai pola gerabah yang akan dibuat.

5. Tebe Si’si (Uma Roa)

Kain pembasah terbuat dari sobekan kain, disebut Tembe Si’i (Uma Roa). Dipergunakan untuk membasahi tepi gerabah. Cara pemakaiannya, sobekan kain dicelupkan ke dalam air dan dioles pada dinding gerabah yang sedang dibentuk agar bahan yang ditambahkan menyatu dengan dinding gerabah.

6. Duncu

Berfungsi sebagai pisau potong untuk mengiris benjolan-benjolan pada permukaan gerabah agar menjadi rata.

3. Jenis Dan Fungsi  Gerabah

  1. Roa (Periuk)

Roa (Periuk) memiliki bentuk yang beragam disesuaikan dengan fungsinya. Jenis Roa antara lain:

a)      Roa Oha (Periuk Nasi)

Yaitu periuk khusus untuk memasak nasi. Tidak boleh dipergunakan untuk memasak jenis makanan lain. Ukurannya tergantung dari jumlah anggota keluarga. Kalau anggota keluarga dalam satu rumah tangga jumlah banyak, maka ukuran Roa Oha berukuran besar.

b)      Roa Uta Mbeca (Periuk Sayur).

Periuk khusus untuk memasak sayur.

c)      Roa Utu (Periuk Ikan)

Periuk untuk memasak ikan.

d)     Roa Panombo

Periuk khusus untuk menyimpan air minum agar terasa dingin dan segar.

e)      Roa Ncu’u (Periuk Usung)

Yaitu periuk yang dipergunakan oleh kaum wanita untuk mengambil air minum di sumur. Periuk berisi air itu diusung atau dijunjung diatas kepala. Karena itu disebut “Roa Ncu’u”.

f)       Roa Bou (Periuk Baru)

Yaitu periuk berukuran kecil untuk menyimpan air dingin bercampur Bunga Kenanga, Cempaka, Melati dan Pandan Wangi yang akan dipergunakan dalam Upacara Boho Oi Ndeu (Menyiram Air Mandi) bagi calon pengantin.

2. Tabe (Kuali).

Terdiri dari:

a)      Tabe Uta Mbeca (kuali untuk sayur)

b)      Tabe Kahawa (kuali untuk menggoreng kopi).

3. Tune atau Moja (Tempayan)

Untuk menyimpan persediaan air minum dalam jumlah yang banyak.

4. Padasa (Pedasan)

Untuk disimpan dekat tangga depan rumah, untuk menyimpan air wudhu.

5. Gandi (Kendi)

Untuk menyimpan air minum atau untuk menyimpan air untuk berwudhu.

6. Tuwu Bongi

Tempat atau wadah untuk menyimpan cadangan beras kebutuhan sehari-hari.

7. Karaku

Sejenis mangkok untuk menyimpan nasi atau sayur.

8. Katoa (Belanga)

Terdiri dari:

a). Katoa Cedo, Katoa (Belanga): untuk menyimpan sendok.

b). Katoa Ndeu, untuk menyimpan air mandi.

c). Katoa Ncana (Katoa Besar), katoa ukuran besar, untuk memasak daging untuk upacara selamatan atau doa.

9. Cobe

Untuk membuat segala jenis bumbu masakan.

D. PROSES PEMBUATAN GERABAH KERAJINAN TANGAN

Proses-proses pembuatan gerabah sebagai berikut:

  1. Proses pencarian tanah liat

Butuh inspeksi yang teliti untuk mendapatkan tanah liat yang terbaik yang sesuai dengan kualitas standart. Tanah liat yang bagus tidak harus berasal dari desa panghasil gerabah namun berasal dari desa terdekat. Tanah liat tidak serta merta digunakan tapi butuh ketelitian yang mendalam dan memastikan tanah liat tidak bercampur dengan batu-batu kecil dan kotoran.

2. Proses pengeringan

Setelah inspeksi, tanah liat dipoting-potong seperti kubus dan dijemur dibawah sinar matahari, butuh sekitar 3 atau 4 hari. Bila potongan kubus-kubus tersebut sudah kering, kemudian ditumbuk jadi seperti adonan tepung yang lembut dan disimpan sebelum digunakan sebagai adonan. Yang paling menarik tidak ada alat-alat modern yang digunakan dalam pembuatan gerabah, tapi lapisan-lapisan tanah liat terus ditambahkan dari jumlah adonan asli. Semantara iu paa pengrajin gerabah memutar benda atau alat yang digunakan sampai terbentuk benda yang diinginkan, kendati bentuknya seperti sudah jadi namun sebenarnya belum selesai, lalu ada juga pengrajin yang ditugaskan khusus untuk mendekorasi setelah itu baik benba atau pot yang dimaksudkan, lalu dibiarkan kering ditempat yang tidak terlalu banyak terkena sinar matahari.

3. Proses mempernis dengan minyak kelapa

Benda atau pot yang sudah dipernis dengan minyak kelapa sebelum dikerik atau digosok dengan batu hitam atau alat-alat tradisional lainnya karena itu permukaannya kelihatan mengikat dan dikeringkan lagi dibawah terik sinar matahari dan itu butuh waktu satu hari dengan cara digosok halus di pertengahan siang hari untuk menambah kilaunya

4. Proses pembakaran

Benda atau pot siap untuk dibakar dan dikumpulkan kedalam oven terbuka yang ditutupi jerami padi yang dibakar lebih dari 4 jam dan temperature produksinya sekitar 400 sampai 800 derajat Celcius.

5. Proses pewarnaan

Langkah terakhir adalah memilih warna yang tepat, bila warna merah tua yang dikehendaki dilapisi dengan sari biji asam dan bila warna merahjentik yang dikehendaki, cukup jentikkan dengan sekam.

 

E. CONTOH-CONTOH GERABAH TANAH LIAT

1. TEMPAYAN

Tempayan merujuk kepada sejenis bekas yang diperbuat daripada tembikar. Bekas ini bermulut luas dan terdapat dalam berbagai jenis, terkadang dengan berbagai ukiran tetapi biasanya tanpa ukiran. Selain itu, terdapat juga tempayan yang mempunyai ukiran timbul pada bagian sisinya.

Image

2. KENDI

Kendi pada umumnya dikenal di seluruh Asia Tenggara. Kata kendi berasal dari bahasa Sanskrit India yakni “kundika” yang artinya wadah air minum. Dalam Ikonografi Hindu kundika merupakan atribut dari Dewa Brahma dan Dewa Siwa. Sedangkan pada agama Budha kundika merupakan Awalokisteswara dan peziarah Bhuda juga membawa kundika yang dianggap sebagai salah satu dari delapan belas wadah suci yang dianggap sebagai seorang Rahib Suci Bhuda dalam perjalanannya mencari Kitab Suci.

Image

Walaupun kendi sudah dikenal sejak masa awal di Jawa dan Negeri Melayu, akan tetapi berdasarkan kesejarahan benda itu berasal dari India yang telah lebih dulu mengenalnya pada zaman peradaban yang lebih tua. Bahkan juga diduga kendi bercorot dari Asia Tenggara bukan hanya peniruan dari India akan tetapi merupakan evolusi dari kendi Mesopotamia dan Yunani. Beberapa bentuk Kendi bercorot kuno yang ditemukan di Mesopotamia berasal dari tahun 3200 SM dan kendi bercorot yang ditemukan di Yunani tahun 2500 SM ada kemiripan dengan bentuk-bentuk kendi yang ada di Asia Tenggara.

Sebutan kendi di Indonesia bermacam-macam khususnya adalah kendi tanpa corot (kendi seperti buah labu atau botol), di Sumatera Barat wadah ini disebut labu tanah, di Jawa ada yang menyebutnya gogok, atau glogok yang katanya berasal dari bunyi yang keluar saat air dituang, di Batak disebut kandi, di Bali disebut kundi atau caratan, di Sulawesi Selatan busu, di Aceh geupet bahlaboh dan di Lampung hibu.

Meskipun kendi-kendi gerabah telah dibuat di banyak tempat di Indonesia sejak jaman prasejarah, namun kendi secara khusus sebagai wadah air yang menuang dari corotnya, baru dikenal pada abad 9 di Jawa. Hal ini dapat ditemukan pada relief-relief yang ada di Candi Borobudur pada serambi Kamadathu. Di Candi Borobudur yang dibangun sekitar tahun 800 M, memperlihatkan kedua bentuk tersebut.

Bentuk Kendi

Bentuk-bentuk kendi pada umumnya berbeda di setiap daerah yang mencerminkan cita rasa atau pengaruh berbagai kebudayaan yang memasuki suatu daerah sepanjang sejarahnya. Temuan-temuan kendi di daerah pemukiman kuno memberikan gambaran penting mengenai pola perdagangan dan hubungan budaya yang ditemukan pada kurun waktu yang berbeda di daerah tersebut dengan wilayah lain seperti dari India, Timur Tengah, Mesopotamia, Yunani, Cina, dan lain-lainnya.

Namun secara umum kendi mengambil bentuk buah labu sebagai inspirasi penciptaan. Hal ini dimungkinkan, mengingat buah labu yang dikeringkan merupakan salah satu wadah air yang pertama-tama digunakan sebelum orang memakai gerabah. Wadah air minum gerabah yang awal diduga meniru bentuk buah tersebut, sampai saat ini masih dibuat dan diciptakan seperti di daerah-daerah di Sulawesi.

Sebenarnya bentuk kendi-kendi yang ada saat ini, tidak jauh berbeda dengan kendi masa lampau. Mungkin variasinya saja yang membedakan. Akan tetapi bilamana diamati secara umum terdapat dua bentuk dasar yakni pertama berbentuk botol, berbadan bulat dan berleher, fungsi leher sebagai tempat mengisi dan menuangkan air. Yang kedua berbadan bulat, berleher dan bercorot. Kedua bentuk ini telah banyak ditemukan pada beberapa situs pra sejarah sebelum abad ke-4, dan kedua bentuk tersebut sampai saat ini masih dibuat dan dipergunakan oleh masyarakat.

Beberapa contoh variasi bentuk dari bentuk dasar kendi dapat disebutkan antara lain di Jawa Tengah, kendi upacara dari Mayong, Pati, bercorot tiga, dua corot di antaranya palsu. Kendi ini dinamakan kendi maling, karena harus diisi dari lubang dasarnya. Kendi dengan bentuk seperti ini juga dibuat di Bali dan Lombok, juga di tanah Gayo, Aceh terdapat beberapa kendi yang menarik, hanya mempunyai dua lobang pada bagian atasnya yang tertutup, cara mengisinya melalui salah satu lubang corot dari atas. Dengan bentuknya yang khas dan disain geometrik yang digores halus, kendi-kendi Aceh mengingatkan kita pada kendi logam dari Timur Tengah. Penduduk Aceh sendiri menganggap kendi ini sebagai tipe tradisionil yang digunakan sejak kerajaan Islam Aceh pada abad XVI.

Di Palembang juga terdapat bejana yang memiliki dua, tiga, empat sampai lima corot yang berdiri tegak pada bagian atasnya, yang masing-masing dapat menuangkan air, pada umumnya badannya beralur, berkaki tinggi dan banyak di antaranya dicat warna merah dan emas.

Fungsi Kendi

Fungsi Kendi utama kendi gerabah adalah sebagai wadah penyimpanan air minum, agar air tetap dingin sepanjang hari, karena kendinya berlubang, air langsung dapat dituang ke mulut melalui tanpa menyentuh mulut. Kendi juga dapat berguna sebagai wadah cairan seperti obat atau ramuan magis. Seperti kendi di Jawa yang bertangkai panjang. Tangkai tersebut berfungsi untuk mencegah tutup terlepas dan airnya terbuang, bilamana digunakan seseorang yang terbaring di tempat tidur. Bentuk lain yang berfungsi sebagai wadah obat ialah kendi yang berlobang pada ujung lehernya dan berbentuk bawang.

Kendi juga dipakai sebagai alat upacara pada acara-acara tertentu, misalnya pada perkawinan dimana kendi menjadi lambang hidup perkawinan, air yang ada dalam kendi dianggap suci, murni dan menyejukan, sebagai simbul perkawinan yang sempurna. Di Jawa Barat pada upacara perkawinan, mempelai wanita membasuh kaki mempelai pria dengan air dari kendi, setelah upacara pemecahan telor. Upacara basuh kaki melambangkan kesetiaan seorang istri terhadap suaminya.

Kendi juga dipakai pada acara sakral misalnya pada waktu upacara pemberangkatan jenasah dari rumah duka menuju pemakaman, seringkali pada masyarakat Jawa Tengah memecahkan kendi yang berisi air. Juga para peziarah yang akan ke makam sanak keluarga biasanya membawa kendi berisi air untuk disiram kekuburan, dengan tujuan agar untuk menyejukan arwah yang meninggal.

Kendi juga dipakai pada acara-acara penobatan atau pengukuhan, misalnya pada acara ekspor perdana, kontainer disiram dengan air melalui kendi yang dipecahkan, atau pada saat pemberian nama “TETUKO” untuk pesawat terbang yang dibuat IPTN di Bandung tahun 1984, Presiden Soeharto memecahkan kendi berisi air wangi pada hidung pesawat.

Pada Tari Bondan, tarian dari Surakarta, seorang anak wanita dengan menggendong boneka mainan dan payung terbuka, menari dengan hati-hati di atas kendi yang diinjak dan tidak boleh pecah. Tarian ini melambangkan seorang ibu yang menjaga anak-anaknya dengan hati-hati.

Di Jawa kendi miniatur/kecil digunakan sebagai pelengkap sesaji pada masyarakat Tengger, dan di Bali dipergunakan pada acara-acara keagamaan, kendi juga diperlakukan sebagai mainan anak-anak, ketika mereka sedang mengadakan permainan rumah-rumahan, atau pasar-pasaran.

Keberadaan kendi masih banyak dijumpai dalam masyarakat Indonesia sebagai pelengkap kehidupan, meskipun usianya telah lama, namun bentuk dan fungsinya selalu dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya sampai saat ini.

3. CELENGAN

Celengan merupakan nama umum untuk kotak pengakumulasian atau penabungan koin. Umumnya, celengan digunakan oleh anak-anak. Celengan biasanya terbuat dari keramik atau porselen. Celengan bertujuan untuk mengajarkan kepada anak untuk menabung. Pada celengan tradisional, uang dapat dengan mudah dimasukkan, namun jika ingin mengambil uangnya, celengan tersebut harus dipecahkan. Tapi celengan modern memiliki lubang karet pada bagian bawahnya, untuk memudahkan dalam mengambil uang yang disimpan dalam celengan tersebut.

Image

 
   
  1. 4.      TEMBIKAR

Tembikar muncul sejak zaman prasejarahyang dibuat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan cara teknologi dasar. Dalam membuat tembokar menggunakan teknik membentuk. Penegertian teknik membentuk di sini membuat karya seni rupa dengan media tanah liat yang lazim disebut gerabah, tembikar dan keramik. Salah satu kerajinan yang berasal dari Lombok (sasak) adalah ” Tembikar”. Kerajinan yang terbuat dari tanah ini dapat menghasilkan berbagai model dan bentuk yang indah dan cantik. Ada tiga daerah yang menjadi pusat pembuatan tembikar di LOmbok,di antaranya adalah ” banyumulek,masbagik timur dan penujak.

Image

Tembikar hasil kerajinan Lombok

Tahap pembuatan tembikar ini yaitu:

  1. Tahap pertama yaitu menuang tanah yang akan dijadikan tembikar
  2. Mengolah tanah yang sudah dituang untuk dijadikan tembikar
 
 

3. Selanjutnya membentuk tembikar sesuai yang diinginkan

 

           
           
  1. 4. Selanjutnya proses pembakaran
       
   
     
 

5. Kemudian proses menghaluskan (purnishing) yang bertujuan untuk memperhalus tembikar

 
   

6. Lalu proses selanjutnya yaitu penghiasan tembikar 
7. Lalu tembikar yang sudah cantik diperdagangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

8. Menjajakan hasil tembikar    

Salah satu manfaat tembikar

Tembikar atau gerabah sudah digunakan manusia sejak ribuan tahun silam. Sejarah mencatat, benda ini sudah ada sejak zaman Neolitikum ketika manusia mulai hidup menetap, bercocok tanam, dan mengenal api. Di Lombok, tradisi pembuatan gerabah bisa kita saksikan di Desa Banyumulek.

Desa Banyumulek berlokasi di Kecamatan Kediri. Para perajin pria dan wanita umumnya bekerja di gudang, bengkel, ataupun halaman rumah. Di ruangan-ruangan cupet itu mereka menghasilkan berbagai gerabah yang kemudian diekspor ke negara-negara maju semacam Selandia Baru, Belanda, Prancis, dan Amerika.

Proses pembuatan gerabah bisa disaksikan siapa saja. Sejumlah bengkel besar bahkan membuka kelas bagi pengunjung yang ingin mempelajari teknik pembuatannya. Di kalangan warga desa, keahlian membuat gerabah lazimnya diwariskan lewat garis darah. Anak-anak mempelajarinya sejak usia belia.

Dalam sehari, perajin senior bisa menghasilkan 10 gerabah kecil setinggi 4-5 centimeter. Keuletan dan kesabaran jadi kunci dalam menghasilkan produk bermutu tinggi.

Metode pembuatan gerabah sebenarnya cukup simpel. Awalnya, bahan-bahan mentah seperti tanah liat (dibeli seharga Rp150 ribu per karung kecil), pasir, dan air dicampur menjadi adonan. Cara mencampurnya mirip proses pembuatan tempe: adonan diinjak-injak bersama-sama oleh pekerja hingga semua materi tercampur. Pekerjaan yang menyedot tenaga ini biasanya dilakukan para pria. Di tahap berikutnya, adonan dibentuk menjadi gerabah, kemudian dibakar di atas jerami. Proses yang terakhir ini umumnya menjadi tanggung jawab kaum wanita.
Paket wisata ke Banyumulek dan menyaksikan proses pembuatan gerabah ditawarkan oleh banyak operator tur. Namun penting diketahui, desa ini bukan-lah satu-satunya produsen gerabah di Lombok. Desa Penunjak dan Masbagik adalah dua mesin ekonomi lain yang rutin menyumbang devisa bagi pulau.

Persaingan mendorong tiap desa mengembangkan desain dan motif yang khas. Di sepanjang jalan utama di Banyumulek berdiri toko-toko yang menjual gerabah dengan tema flora dan fauna. Bentuknya pun beragam. Ada periuk, jeding, kuali, serta kendi maling yang menjadi ciri khas Banyumulek.

Sebuah guci berukuran 50 centimeter yang dibalut motif batik dibanderol Rp700 ribu oleh si penjual. Harga yang wajar mengingat proses pembuatan motifnya memakan waktu tiga hari. Gerabah paling mahal bisa menembus angka Rp1,5 juta. Oleh-oleh yang menarik bagi Anda yang berkunjung ke Lombok.

5.      Keramik

Keramik  pada awalnya berasal dari bahasa Yunani yaitu “keramikos” yang artinya suatu bentuk dari tanah liat yang telah mengalami proses pembakaran. Kamus dan ensiklopedia tahun 1950-an mendefinisikan keramik sebagai suatu hasil seni dan teknologi untuk menghasilkan barang dari tanah liat yang dibakar, seperti gerabah, genteng, porselin, dan sebagainya. Tetapi saat ini tidak semua keramik berasal dari tanah liat. Definisi pengertian keramik terbaru mencakup semua bahan bukan logam dan anorganik yang berbentuk padat.

Umumnya senyawa keramik lebih stabil dalam lingkungan termal dan kimia dibandingkan elemennya. Bahan baku keramik yang umum dipakai adalah felspard, ball clay, kwarsa, kaolin, dan air. Sifat keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan mineral bawaannya. Oleh karena itu sifat keramik juga tergantung pada lingkungan geologi dimana bahan diperoleh. Secara umum strukturnya sangat rumit dengan sedikit elektron-elektron bebas. Kurangnya beberapa elektron bebas keramik membuat sebagian besar bahan keramik secara kelistrikan bukan merupakan konduktor dan juga menjadi konduktor panas yang jelek. Di samping itu keramik mempunyai sifat rapuh, keras, dan kaku. Keramik secara umum mempunyai kekuatan tekan lebih baik dibanding kekuatan tariknya.

Salah satu jenis keramik yaitu keramik tradisional.Keramik tradisional yaitu keramik yang dibuat dengan menggunakan bahan alam, seperti kuarsa, kaolin, dll. Yang termasuk keramik ini adalah: barang pecah belah (dinnerware), keperluan rumah tangga (tile, bricks), dan untuk industri (refractory).

  • Sifat Keramik

Sifat yang umum dan mudah dilihat secara fisik pada kebanyakan jenis keramik adalah britle atau rapuh, hal ini dapat kita lihat pada keramik jenis tradisional seperti barang pecah belah, gelas, kendi, gerabah dan sebagainya, coba jatuhkan piring yang terbuat dari keramik bandingkan dengan piring dari logam, pasti keramik mudah pecah, walaupun sifat ini tidak berlaku pada jenis keramik tertentu, terutama jenis keramik hasil sintering, dan campuran sintering antara keramik dengan logam. sifat lainya adalah tahan suhu tinggi, sebagai contoh keramik tradisional yang terdiri dari clay, flint dan feldfar tahan sampai dengan suhu 1200 C, keramik engineering seperti keramik oksida mampu tahan sampai dengan suhu 2000 C. kekuatan tekan tinggi, sifat ini merupakan salah satu faktor yang membuat penelitian tentang keramik terus berkembang.

  • Teknologi Pembuatan Keramik
  1. a.      Pendahuluan dan Manfaat

Keramik adalah semua benda-benda yang terbuat dari tanah liat/lempung yang mengalami suatu proses pengerasan dengan pembakaran suhu tinggi. Pengertian keramik yang lebih luas dan umum adalah “Bahan yang dibakar tinggi” termasuk didalamnya semen, gips, metal dan lainnya.

  1. b.      Jenis Badan Keramik Menurut Kepadatan
  2. 1.      Gerabah (Earthenware), dibuat dari semua jenis bahan tanah liat yang plastis dan mudah dibentuk dan dibakar pada suhu maksimum 1000°C. Keramik jenis ini struktur dan teksturnya sangat rapuh, kasar dan masih berpori. Agar supaya kedap air, gerabah kasar harus dilapisi glasir, semen atau bahan pelapis lainnya. Gerabah termasuk keramik berkualitas rendah apabila dibandingkan dengan keramik batu (stoneware) atau porselin. Bata, genteng, paso, pot, anglo, kendi, gentong dan sebagainya termasuk keramik jenis gerabah. Genteng telah banyak dibuat berglasir dengan warna yang menarik sehingga menambah kekuatannya.
  3. 2.      Keramik Batu (Stoneware), dibuat dari bahan lempung plastis yang dicampur dengan bahan tahan api sehingga dapat dibakar pada suhu tinggi (1200°-1300°C). Keramik jenis ini mempunyai struktur dan tekstur halus dan kokoh, kuat dan berat seperti batu. Keramik jenis termasuk kualitas golongan menengah.
  4. 3.      Porselin (Porcelain), adalah jenis keramik bakaran suhu tinggi yang dibuat dari bahan lempung murni yang tahan api, seperti kaolin, alumina dan silika. Oleh karena badan porselin jenis ini berwarna putih bahkan bisa tembus cahaya, maka sering disebut keramik putih. Pada umumnya, porselin dipijar sampai suhu 1350°C atau 1400°C, bahkan ada yang lebih tinggi lagi hingga mencapai 1500°C. Porselin yang tampaknya tipis dan rapuh sebenarnya mempunyai kekuatan karena struktur dan teksturnya rapat serta keras seperti gelas. Oleh karena keramik ini dibakar pada suhu tinggi maka dalam bodi porselin terjadi penggelasan atau vitrifikasi. Secara teknis keramik jenis ini mempunyai kualitas tinggi dan bagus, disamping mempunyai daya tarik tersendiri karena keindahan dan kelembutan khas porselin. Juga bahannya sangat peka dan cemerlang terhadap warna-warna glasir.
  5. 4.      Keramik Baru (New Ceramic), adalah keramik yang secara teknis, diproses untuk keperluan teknologi tinggi seperti peralatan mobil, listrik, konstruksi, komputer, cerobong pesawat, kristal optik, keramik metal, keramik multi lapis, keramik multi fungsi, komposit keramik, silikon, bioceramic, dan keramik magnit. Sifat khas dari material keramik jenis ini disesuaikan dengan keperluan yang bersifat teknis seperti tahan benturan, tahan gesek, tahan panas, tahan karat, tahan suhu kejut seperti isolator, bahan pelapis dan komponen teknis lainnya.
  • Peralatan dan Bahan

Badan keramik adalah bagian utama dalam pembuatan keramik dan bahan utamanya biasa disebut dengan bahan mentah keramik. Contoh bahan mentah keramik alam seperti kaolin, lempung, felspar, kuarsa, pyrophillit dan sebagainya. Sedangkan bahan keramik buatan seperti mullit, SiC, Borida, Nitrida, H3BO3 dan sebagainya.

  • Bahan mentah keramik digolongkan menjadi 5 (lima) yaitu:
  1. Bahan Pengikat Contoh : kaolin, ball clay, fire clay, red clay
  2. Bahan Pelebur Contoh : felspar, kapur
  3. Bahan Pengisi Contoh : silika, grog (samot)
  4. Bahan Tambahan Contoh : water glass, talk, pyrophillit
  5. Bahan Mentah Glasir.
  • Cara Pembuatan

Ada beberapan cara atau teknik pembuatan keramik, yaitu :

  1. Teknik coil (lilit pilin)
  2. Teknik tatap batu/pijat jari
  3. Teknik slab (lempengan)

Cara pembentukan dengan tangan langsung seperti coil, lempengan atau pijat jari merupakan teknik pembentukan keramik tradisional yang bebas untuk membuat bentuk-bentuk yang diinginkan. Bentuknya tidak selalu simetris. Teknik ini sering dipakai oleh seniman atau para penggemar keramik.

Teknik putar

Teknik pembentukan dengan alat putar dapat menghasilkan banyak bentuk yang simetris (bulat, silindris) dan bervariasi. Cara pembentukan dengan teknik putar ini sering dipakai oleh para pengrajin di sentra-sentara keramik. Pengrajin keramik tradisional biasanya menggunakan alat putar tangan (hand wheel) atau alat putar kaki (kick wheel). Para pengrajin bekerja di atas alat putar dan menghasilkan bentuk-bentuk yang sama seperti gentong, guci dan lain-lain.


 

Teknik cetak

Teknik pembentukan dengan cetak dapat memproduksi barang dengan jumlah yang banyak dalam waktu relatif singkat dengan bentuk dan ukuran yang sama pula. Bahan cetakan yang biasa dipakai adalah berupa gips, seperti untuk cetakan berongga, cetakan padat, cetakan jigger maupun cetakan untuk dekorasi tempel. Cara ini digunakan pada pabrik-pabrik keramik dengan produksi massal, seperti alat alat rumah tangga piring, cangkir, mangkok gelas dan lain-lain.

Disamping cara-cara pembentukan diatas, para pengrajin keramik tradisonal dapat membentuk keramik dengan teknik cetak pres, seperti yang dilakukan pengrajin genteng, tegel dinding maupun hiasan dinding dengan berbagai motif seperti binatang atau tumbuh-tumbuhan.

Beberapa teknik dekorasi yang dapat diterapkan pada benda-benda keramik, antara lain:

  • Dekorasi ukir

Dilakukan pada keramik halus maupun keramik tradisional dengan menggunakan pahat ukir seperti yang dilakukan pada media kayu.

  • Dekorasi toreh

Dilakukan dengan menggunakan benda tajam seperti pisau Torehan-torehan tersebut membentuk motif-motif sesuai dengan yang diinginkan seperti garis-garis maupun relung-relung. Biasa dijumpai pada pengrajin keramik tradisional di Lombok yang diterapkan pada gentong, kendi dan piring.

  • Dekorasi melubangi

Dilakukan dengan cara melubangi bagian-bagian yang ingin dihias dengan menggunakan pipa logam yang dipotong miring. Dekorasi semacam ini diterapkan pada barang-barang seperti tempat lilin dan kap lampu.

  • Dekorasi stempelan/cap

Teknik stempelan/cap dapat diterapkan pada keramik dengan menekankan sebuah stempelan pada permukaan benda keramik. Stempelan bisa dibuat dari kayu, logam, gips, atau menggunakan tanah yang dibakar.

  • Dekorasi tempel

Dilakukan dengan menempelkan motif-motif tertentu yang dibuat dari cetakan atau dibuat langsung dengan tangan.

  • Dekorasi lukis

Dekorasi teknik lukis baik lukis on glaze (diatas glasir) maupun under glaze (dibawah glasir) diterapkan pada benda keramik dengan cara melukis di atas benda keramik yang sudah diglasir maupun sebelum diglasir dengan menggunakan pewarna khusus keramik, dengan penyelesaian akhir dibakar pada temperatur ± 800°C. Teknik dekorasi lukis ini tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan pada keramik tradisional, namun bahan pewarna yang digunakan berbeda dengan keramik halus. Bahan pewarna yang dipakai adalah seperti cat paragon, asturo yang tidak dibakar lagi.

  • Dekorasi sablon dan Dekorasi stiker

Khusus teknik sablon dan teknik stiker tidak dapat diterapkan pada keramik tradisional, akan tetapi hanya dapat diterapkan pada keramik halus (stone ware) dan porselin sebab keramik tradisional mempunyai porositas yang tinggi sehingga penyerapan warna tidak bagus. Demikian juga, bahan yang digunakan tidak cocok untuk body keramik tradisional, seperti pewarna kusus keramik, medium dll. Teknik ini dapat dilakukan dengan menyablon langsung di atas benda keramik atau dengan membuat stiker terlebih dahulu kemudian ditempelkan pada permukaan benda keramik. Teknik sablon langsung hanya dapat diterapkan pada benda-benda keramik yang mempunyai permukaan datar seperti pada tegel sebab alat yang digunakan berupa screen segi empat dengan permukaan mendatar dan langsung bersentuhan dengan permukaan benda keramik. Sedangkan teknik stiker dapat diterapkan pada semua jenis permukaan teknik sablon dan stiker sama halnya dengan teknik lukis dengan penyelesaian akhir dibakar pada temperatur + 800°C.

  • Ada beberapa tahapan proses yang harus dilakukan untuk membuat suatu produk keramik, yaitu:
  1. Pengolahan bahan

Tujuan pengolahan bahan ini adalah untuk mengolah bahan baku dari berbagai material yang belum siap pakai menjadi badan keramik plastis yang telah siap pakai. Pengolahan bahan dapat dilakukan dengan metode basah maupun kering, dengan cara manual ataupun masinal. Didalam pengolahan bahan ini ada proses-proses tertentu yang harus dilakukan antara lain pengurangan ukuran butir, penyaringan, pencampuran, pengadukan (mixing), dan pengurangan kadar air. Pengurangan ukuran butir dapat dilakukan dengan penumbukan atau penggilingan dengan ballmill. Penyaringan dimaksudkan untuk memisahkan material dengan ukuran yang tidak seragam. Ukuran butir biasanya menggunakan ukuran mesh. Ukuran yang lazim digunakan adalah 60 – 100 mesh.

Pencampuran dan pengadukan bertujuan untuk mendapatkan campuran bahan yang homogen/seragam. Pengadukan dapat dilakukan dengan cara manual maupun masinal dengan blunger maupun mixer.

Pengurangan kadar air dilakukan pada proses basah, dimana hasil campuran bahan yang berwujud lumpur dilakukan proses lanjutan, yaitu pengentalan untuk mengurangi jumlah air yang terkandung sehingga menjadi badan keramik plastis. Proses ini dapat dilakukan dengan diangin-anginkan diatas meja gips atau dilakukan dengan alat filterpress.

Tahap terakhir adalah pengulian. Pengulian dimaksudkan untuk menghomogenkan massa badan tanah liat dan membebaskan gelembung-gelembung udara yang mungkin terjebak. Massa badan keramik yang telah diuli, disimpan dalam wadah tertutup, kemudian diperam agar didapatkan keplastisan yang maksimal.

  1. Pembentukan

Tahap pembentukan adalah tahap mengubah bongkahan badan tanah liat plastis menjadi benda-benda yang dikehendaki. Ada tiga keteknikan utama dalam membentuk benda keramik: pembentukan tangan langsung (handbuilding), teknik putar (throwing), dan teknik cetak (casting).

  • Pembetukan tangan langsung

Dalam membuat keramik dengan teknik pembentukan tangan langsung, ada beberapa metode yang dikenal selama ini: teknik pijit (pinching), teknik pilin (coiling), dan teknik lempeng (slabbing).

  • Pembentukan dengan teknik putar

Pembentukan dengan teknik putar adalah keteknikan yang paling mendasar dan merupakan kekhasan dalam kerajinan keramik. Karena kekhasannya tersebut, sehingga keteknikan ini menjadi semacam icon dalam bidang keramik. Dibandingkan dengan keteknikan yang lain, teknik ini mempunyai tingkat kesulitan yang paling tinggi. Seseorang tidak begitu saja langsung bisa membuat benda keramik begitu mencobanya. Diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk melatih jari-jari agar terbentuk ’feeling’ dalam membentuk sebuah benda keramik. Keramik dibentuk diatas sebuah meja dengan kepala putaran yang berputar. Benda yang dapat dibuat dengan keteknikan ini adalah benda-benda yang berbentuk dasar silinder: misalnya piring, mangkok, vas, guci dan lain-lain. Alat utama yang digunakan adalah alat putar (meja putar). Meja putar dapat berupa alat putar manual mapupun alat putar masinal yang digerakkan dengan listrik.

Secara singkat tahap-tahap pembentukan dalam teknik putar adalah: centering (pemusatan), coning (pengerucutan), forming (pembentukan), rising (membuat ketinggian benda), refining the contour (merapikan).

  • Pembentukan dengan teknik cetak

Dalam keteknikan ini, produk keramik tidak dibentuk secara langsung dengan tangan; tetapi menggunakan bantuan cetakan/mold yang dibuat dari gipsum. Teknik cetak dapat dilakukan dengan 2 cara: cetak padat dan cetak tuang (slip). Pada teknik cetak padat bahan baku yang digunakan adalah badan tanah liat plastis sedangkan pada teknik cetak tuang bahan yang digunakan berupa badan tanah liat slip/lumpur. Keunggulan dari teknik cetak ini adalah benda yang diproduksi mempunyai bentuk dan ukuran yang sama persis. Berbeda dengan teknik putar atau pembentukan langsung.

  1. Pengeringan

Setelah benda keramik selesai dibentuk, maka tahap selanjutnya adalah pengeringan. Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk menghilangkan air plastis yang terikat pada badan keramik. Ketika badan keramik plastis dikeringkan akan terjadi 3 proses penting: (1) Air pada lapisan antarpartikel lempung mendifusi ke permukaan, menguap, sampai akhirnya partikel-partikel saling bersentuhan dan penyusutan berhenti; (2) Air dalam pori hilang tanpa terjadi susut; dan (3) air yang terserap pada permukaan partikel hilang. Tahap-tahap ini menerangkan mengapa harus dilakukan proses pengeringan secara lambat untuk menghindari retak/cracking terlebih pada tahap satu. Proses yang terlalu cepat akan mengakibatkan keretakkan dikarenakan hilangnya air secara tiba-tiba tanpa diimbangi penataan partikel tanah liat secara sempurna, yang mengakibatkan penyusutan mendadak.

Untuk menghindari pengeringan yang terlalu cepat, pada tahap awal benda keramik diangin-anginkan pada suhu kamar. Setelah tidak terjadi penyusutan, pengeringan dengan sinar matahari langsung atau mesin pengering dapat dilakukan.

  1. Pembakaran

Pembakaran merupakan inti dari pembuatan keramik dimana proses ini mengubah massa yang rapuh menjadi massa yang padat, keras, dan kuat. Pembakaran dilakukan dalam sebuah tungku/furnace suhu tinggi. Ada beberapa parameter yang mempengaruhi hasil pembakaran: suhu sintering/matang, atmosfer tungku dan tentu saja mineral yang terlibat. Selama pembakaran, badan keramik mengalami beberapa reaksi-reaksi penting, hilang/muncul fase-fase mineral, dan hilang berat (weight loss). Secara umum tahap-tahap pembakaran maupun kondisi api furnace dapat dirinci dalam tabel.

  • Pembakaran biskuit

Pembakaran biskuit merupakan tahap yang sangat penting karena melalui pembakaran ini suatu benda dapat disebut sebagai keramik. Biskuit (bisque) merupakan suatu istilah untuk menyebut benda keramik yang telah dibakar pada kisaran suhu 700 – 1000oC. Pembakaran biskuit sudah cukup membuat suatu benda menjadi kuat, keras, kedap air. Untuk benda-benda keramik berglasir, pembakaran biskuit merupakan tahap awal agar benda yang akan diglasir cukup kuat dan mampu menyerap glasir secara optimal.


 

  1. Pengglasiran

Pengglasiran merupakan tahap yang dilakukan sebelum dilakukan pembakaran glasir. Benda keramik biskuit dilapisi glasir dengan cara dicelup, dituang, disemprot, atau dikuas. Untuk benda-benda kecil-sedang pelapisan glasir dilakukan dengan cara dicelup dan dituang; untuk benda-benda yang besar pelapisan dilakukan dengan penyemprotan. Fungsi glasir pada produk keramik adalah untuk menambah keindahan, supaya lebih kedap air, dan menambahkan efek-efek tertentu sesuai keinginan.

Kesemua proses dalam pembuatan keramik akan menentukan produk yang dihasilkan. Oleh karena itu kecermatan dalam melakukan tahapan demi tahapan sangat diperlukan untuk menghasilkan produk yang memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

  • http://www. pdfchaser.com, 10 Februari 2011, 18.30 WITA
  • http://www. indonesiabizlist.com, 09 Februari 2011, 16.30 WITA
  • http://www. happylittlethings.multiply.com, 09 Februari 2011, 16.35 WITA
  • http://www. lombok-gifts.com, 09 Februari 2011, 16.40 WITA
  • http://www. lombok-travelnews.com, 09 Februari 2011, 16.50 WITA
  • http://www. sasakartshop.indonetwork.co.id, 09 Februari 2011, 17.05 WITA
Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar